About Me
JESUS holic ..
love family, friends, purple..
*18 yo..
nan kkumi isseotjyo :D
Laporan Skenario 2 Ruangan 1

Skenario 2 Seorang ibu, 27 tahun, sementara menyusui bayinya yang berusia 2 bulan. Ibu ini mengeluh payudara sebelah kirinya kemerahan, nyeri, teraba keras dan tampak keluar cairan kental kekuningan dari permukaan kulit yang retak-retak sejak 5 hari yang lalu. Ibu juga mengeluh badannya terasa panas.

• Kata Sulit : -

• Kata Kunci : - Wanita 27 tahun;- Payudara sebelah kirinya kemerahan, nyeri, teraba keras dan tampak keluar cairan kental kekuningan; - Permukaan kulit retak sejakk 5 hari yang lalu; - Mengeluh badannya terasa panas.

• Masalah Dasar : Ibu 27 tahun mengeluh badannya terasa panas akibat radang payudara

• Pertanyaan-pertanyaan:

1. Jelaskan etiologi radang payudara sampai tingkat seluler dan molekuler !

2. Jelaskan patomekanisme radang payudara sampai tingkat seluler dan molekuler ! 3. Jelaskan mekanisme terjadinya demam sampai tingkat seluler dan molekuler !

4. Apa yang menyebabkan payudara kemerahan, nyeri, teraba keras dan tampak keluar cairan kental kekuningan ?

5. Jelaskan definisi radang !

6. Jelaskan klasifikasi radang !

7. Jelaskan mediator-mediator kimia apa saja yang berperan pada proses radang ! 8. Jelaskan tentang radang kronik, bagaimana terjadinya radang kronik, dan jelaskan tentang sel-sel radang kronik !

9. Jelaskan gambaran morfologi radang akut dan kronik !

10. Bagaimana sampai terjadinya retak pada payudara ibu tersebut dan apa dampak terhadap anak ?

11. Anamnesis, pemeriksaan fisik dan penanganan pada kasus ini !

12. Jelaskan tentang sistem imun tubuh !

13. Edukasi terhadap ibu dan anak pada kasus ini !

14. Penatalaksanaan pada kasus ini !

15. Prognosis untuk kasus ini !

Pembahasan

1. Etiologi mastitis Radang payudara, adalah peradangan pada payudara yang disebabkan oleh infeksi pada jaringan payudara atau karena penyumbatan. Mastitis dibagi menjadi 3 periductal mastitis yaitu mastitis pueperalis, dan supurativa mastitis. Dua penyebab utama dari mastitis adalah stasis (terhenti) ASI dan infeksi. Patogen yang paling sering diidentifikasi adalah staphylococcus auereus.

Penyebab yang lain:

• Daya tahan tubuh yang lemah dan kurangnya menjaga kebersihan puting payudara saat menyusui.

• Saluran ASI tersumbat tidak segera diatasi sehingga menjadi mastitis. Dua penyebab utama mastitis adalah statis ASI dan infeksi. Statis ASI biasanya merupakan penyebab primer, yang dapat disertai atau berkembang menuju infeksi. Gunther pada tahun 1958 menyimpulkan dari pengamatan klinis bahwa mastitis diakibatkan oleh stagnasi ASI di dalam payudara, dan bahwa pengeluaran ASI yang efisien dapat mencegah keadaan tersebut. Ia menyatakan bahwa infeksi, bila terjadi, bukan primer, tetapi di akibatkan oleh stagnasi ASI sebagai media pertumbuhan bakteri. Thomsen dan kawan-kawan pada tahun 1984 menghasukjan bukti tambahan tentang pentingnya ASI dengan tanda klinis mastitis dan mengajukan klasifikasi berikut ini.

• Statis ASI

• Inflamasi noninfeksiosa (atau mastitis noninfeksiosa)

• Mastitis infeksiosa Pada studi acak, mereka menemukan bahwa statis ASI (leukosit 106 dan bakteri 106 dan bakteri >103) hanya dapat diobati dengan efektif dengan pemerasan ASI dan antibiotik sistemik. Tanpa pengeluaran ASI yang efektif, mastitis noninfeksiosa sering berkembang menjadi mastitis infeksiosa, dan mastitis infeksiosa menjadi pembetukan abses. Thomsen dkk juga menghubungkan hitung sel dan bakteri dengan temuan klinis, dan diketahui bahwa infeksi tidak mungkin ditentukan hanya dari tanda-tanda klinis.

2.

3. Demam terjadi bila berbagai proses infeksi dan noninfeksi berinteraksi dengan mekanisme pertahanan hospes. Dimana mekanisme tersebut menyebabkan perubahan pengaturan homeostatik suhu normal pada hipotalamus yang dapat disebabkan antara lain oleh infeksi, vaksin, agen biologis, jejas jaringan, keganasan, obat-obatan, gangguan imunologik-reumatologik, penyakit peradangan, penyakit granulomatosis, ganggguan endokrin, ganggguan metabolik, dan bentuk-bentuk yang belum diketahui atau kurang dimengerti. Jalur akhir penyebab demam yang paling sering adalah adanya pirogen, yang kemudian secara langsung mengubah “set-point” di hipotalamus, menghasilkan pembentukan panas dan konversi panas. Pirogen adalah suatu zat yang menyebabkan demam, terdapat 2 jenis pirogen yaitu pirogen eksogen dan pirogen endogen. Pirogen eksogen berasal dari luar tubuh yaitu pirogen mikrobial dan pirogen non-mikrobial. Pirogen mikrobial diantaranya seperti bakteri gram positif, bakteri gram negatif, virus maupun jamur; sedangkan pirogen non-mikrobial antara lain proses fagositosis, kompleks antigen-antibodi, steroid dan sistem monosit-makrofag; yang keseluruhannya tersebut mempunyai kemampuan untuk merangsang pelepasan pirogen endogen yang disebut dengan sitokin yang diantaranya yaitu interleukin-1 (IL-1), Tumor Necrosis Factor (TNF), limfosit yang teraktivasi, interferon (INF), interleukin-2 (IL-2) dan Granulocyte-macrophage colony-stimulating factor (GM-CSF). Sebagian besar sitokin ini dihasilkan oleh makrofag yang merupakan akibat reaksi terhadap pirogen eksogen. Dimana sitokin-sitokin ini merangsang hipotalamus untuk meningkatkan sekresi prostaglandin, yang kemudian dapat menyebabkan peningkatan suhu tubuh.

4. Payudara mengalami kemerahan , nyeri,keluar cairan kuning,dan permukaan kulit retak2 dikarenakan terjadi abses payudara (radang) . Peradangan payudara atau yang disebut mastitis dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, perembesan sekresi melalui fisura di puting, dan dermatitis yang mengenai puting. Bakteri yang sering menyebabkan terjadinya mastitis ini adalah Stafilokokus aureus atau streptokok. Mastitis sering terjadi pada pascapartum selama awal laktasi jika organisme berhasil masuk dan mencapai jaringan payudara melalui fisura pada puting. Gejala dan tanda yang sering ditimbulkan oleh abses payudara adalah tanda-tanda inflamasi pada payudara (merah, panas jika disentuh, membengkak, dan nyeri tekan), keluar nanah/pus dari puting, teraba massa, gejala sistemik berupa demam tinggi, menggigil, malaise, dan timbul limfadenopati pectoralis, axiller, parasternalis, dan subclavia. Adapun patogenesis dari abses payudara adalah: -luka/lesi pada puting -organisme masuk (organisme ini biasanya dari mulut bayi) -peradangan - terjadi penyumbatan duktus -produksi susu normal - pengeluaran susu terhambat -terbetuk abses. Penanganan yang dapat dilakukan untuk mastitis adalah pemanasan lokal, antipiretik dan analgesik ringan, pengosongan payudara berkala dengan terus memberikan ASI atau memompa, dan terapi antibiotika oral. Namun jika sudah terjadi abses, perlu diberikan antibiotik intravena, aspirasi, atau insisi dan jika perlu drainase. Setiap cairan aspirasi perlu dilakukan pemeriksaan histologik untuk menyingkirkan keganasan. Imunologi menurut pengertian saat ini adalah ilmu yang mempelajari tentang respons imun dalam arti luas dam mempelajari peristiwa seluler dan molekuler yang terjadi setelah tubuh terpapar mikroba atau makromolekul asing. Lingkungan di sekitar manusia mengandung berbagai jenis patogen, misalnya bakteri, virus, fungus, protozoa dan parasit yang dapat menyebabakan infeksi pada manusia. Infeksi yang terjadi pada orang normal umumnya singkat dan jarang meninggalkan kerusakan permanen. Hal ini disebabkan tubuh manusia memilii suatu sistem yang disebut sistem imun yang memberikan respons dan melindungi tubuh terhadap unsur-unsur patogen tersebut. Respons imun sangat bergantung pada kemampuan sistem imun untuk mengenali molekul asing (antigen) yang terdapat pada patogen potensial dan kemudian membangkitkan reaksi yang tepat untuk menyingkirkan sumber antigen itu. Unsur utama sistem imin adalah limfosit. Limfosit pada seorang individu melakukan diversifikasi selama perkembangannya demikian rupa sehingga populasi limfosit secara keseluruhan mampu mengenal molekul asing dan membedakannya dari molekul jaringan atau sel tubuh sendiri. Kemampuan diversifikasi dimiliki oleh komponen-komponen sistem imun yang terdapat dalam jaringan limforetikuler yang letaknya tersebar diseluruh tubuh, misalnya dalam sumsum tulang, kelenjar limfe, limpa, thymus, sistem saluran nafas, saluran cerna dan organ-organ lain. Rangsangan terhadap sel-sel tersebut terjadi apabila didalam tubuh masuk suatu zat yang oleh sel atau jaringan tadi dianggap asing. Sistem imun dapat membedakan zat asing (non self) dari zat yang berasal dari tubuh sendiri (self). Pada keadaan patologik, sistem imun tidak dapat membedakan self dan non-self sehingga sel-sel dalam sistem imun membentuk zat anti terhadap jaringan tubuhnya sendiri. Zat itu disebut antibodi.

5. Definisi Radang Radang adalah sederetan respon fisiologis jaringan yang mengandung vaskuler terhadap cedera jaringan.

6. Klasifikasi radang berdasarkan waktu: • Menurut waktu berlangsung: – Akut (mendadak): à disebut juga radang eksudatif • Waktu berlangsungnya relatif lebih pendek • Berakhir dalam beberapa menit, jam, atau hari (sampai 2 hari) • Tanda khas utama: – 1.EKSUDASI CAIRAN DAN PROTEIN PLASMA – 2.EMIGRASI LEKOSIT TERUTAMA PMN – Subakut: antara radang akut dan kronik – Kronik (menahun): • Waktu berlangsungnya lebih panjang (bisa bertahun-tahun) • Secara histologis: – Adanya sel-sel limfosit dan makrofag – Proliferasi pembuluh darah – Fibrosis – Nekrosis jaringan • Menurut sifatnya: – Radang spesifik:misalnya tuberkulose, lues, dan lepra dimana radang ini memberi gambaran yg spesifik. – Radang tidak spesifik: yang memberi gambaran yang berbeda-beda walaupun agen penyebabnya sama. • Menurut pemakaian dalam klinis: – Menurut eksudat: serosa, fibrinosa, purulen, hemoragik, kataralis – Radang produktif/proliferatif/formatif: – Pertumbuhan jaringan ikat/epitel yang berlebihan – Radang alternatif atau parenkimatik: terjadi pada organ-organ parenkim spt. Hati, jantung,dll. Tdapat degenerasi dengan fokus-fokus nekrosis • Menurut jenis lokalisasi dan reaksi: Abses, selulitis, ulkus, radang membranosa • 5.Menurut penyebab/etiologi: – Agen hidup: Artropoda,helminta,protozoa,bakteri,virus,dll – Agen mati: Mekanis/trauma,termis(panas&dingin),sinar (UV,RO,infrared), listrik, kimia – Alergik dan hipersensisitivitas

7. Sel radang mengeluarkan histamine, sitokin, dan leukotrien yg dibuat oleh tubuh kita yg membuat proses peradangan terus berlangsung. • Histamin Dilepaskan oleh basofil, trombosit, dan sel mast. Histamine ikut berkontribusi terhadap thapan respons vascular thdp peradangan. • Sitokin Berfungsi sbg hormone local yg mmpengaruhi respons prtahanan penjamu thdp cedera atau infeksi. • Leukotrien Meningkatkan permeabilitas vascular dan meningkatkan adesi sel darah putih ke kapiler selama cedera atau infeksi. • Prostaglandin Perantara penting peradangan. Meningkatkan aliran darah ke tempat peradangan dan meningkatkan permeabilitas vascular. • Interferon Khusus untuk mencegah infeksi intrasel oleh virus atau parasit. • Kemokin Sebagai agen kemoktatik untuk mengatur pergerakan leukosit.

8. Menjelaskan Tentang Radang Kronik • = radang yang berlangsung lama (minggu-minggu atau bulan-bulan) à radang tsb. Aktif, ada destruksi jaringan, dan adanya tanda-tanda penyembuhan berjalan bersama-sama • Dapat terjadi pada : 1. Infeksi persisten: oleh mikroorganisme tertentu. Biasanya toksisitas rendah, tetapi menimbulkan reaksi imunologik disebut ‘delayed hypersensitivity’ Bagaimana Terjadi Radang kronik Radang kronik merupakan perkembangan dari peradagan akut perubahan ini terjadi ketika respons akut perubahan ini terjadi ketika respons akut tidak teratasi karena gen cedera yang menetapatu karena gangguan proses penyembuhan normal kemungkinan lain beberapa bentk jenis misalnya infeksi virus menimbulkan respons yaitu infalmasi kronik yang pada dasarnya sejak awal. Sel sel radang kronik seperti makrofag - Salah satu komponen dari sistim fagosit mononuklear. Sistim fagosit mononuklear terdiri dari sel-sel yang berasal dari sumsum tulang mencakup: - Monosit darah dan - Makrofag jaringan - Makrofag jaringan antara lain: - Berada dalam jaringan ikat atau - Dalam organ, misalnya: - Sel Kupffer à hati - Sinus histiosit à limfonodus - Makrofag alveoli à rongga/alveoli paru-paru Semuanya berasal dari prekursor di dalam sumsum tulangà (stem cell) à monosit darah • Makrofag à unsur yg sentral dalam radang kronik karena makrofag dapat menghasilkan produk yang aktif. • Beberapa produk aktif makrofag adalah: – Toksik terhadap sel: misalnya metabolit O2 dan NO; atau matriks ekstraseluler misalnya protease – Menyebabkan influks jenis sel-sel lain, seperti: sitokin, faktor kemotaksis – Menyebabkan proliferasi fibroblast dan deposito kolagen (growth factor) Jadi senjata mediator yang dibuat makrofag sangat kuat untuk pertahanan tubuh, tetapi pada waktu yang sama senjata ini juga menginduksi kerusakan jaringan bila makrofag diaktifkan secara tidak tepat LIMFOSIT - Limfosit à pada reaksi imun diperantarai antibodi dan sel; dan radang diperantarai non imun - Limfosit jenis T, B, atau states menggunakan pelbagai molekul adhesi (VCAM-1; ICAM-1; dan LFA-1); dan mediator-mediator kimia (terutama sitokin) untuk bermigrasi ke tempat radang - Limfosit dapat diaktifkan melalui kontak dengan antigen. Limfosit aktif à produksi à limfokin dan merupakan suatu stimulator utama untuk kemotaksis monosit, pengaktifan dan diferensiasi makrofag à oleh IFN-γ EOSINOFIL - Adalah karakteristik pada reaksi imun diperantarai IgE dan infeksi parasit - Penarikan eosinofil dari dalam sirkulasi darah dan kemudian berada dalam jaringan melalui proses yang sama seperti terjadi pada sel lekosit lain seperti PMN - Eosinofil mempunyai granula-granula yang mengandung Mayor Basic Protein (MBP): adalah protein yang sangat kationik yang toksik terhadap parasit. SEL MAST - Sel mast berdistribusi secara luas dalam jaringan ikat dan berpartisipasi pada proses radang akut - Sel mast mengekspresi reseptor permukaan yang mengikat bagian Fc dari antibodi IgE

9. Gambaran morfologi • Radang akut: (1) eksudasi cairan dan protein khusus (edema), dan (2) emigrasi leukosit terutama neutrofil (PMN). • Radang kronik: (1) infiltrasi sel monokuler mencakup makrofag, limfosit dan sel-sel plasma, (2) dekstrusi jaringan, sebagian besar dicetuskan oleh sel-sel radang, dan (3) mulai adanya penyembuhan dengan adanya pergantian jaringan yang rusak di sertai proliferasi pembuluh darah (angiogenesis) dan fibrosis.

10. Matasis adalah peradangan payudara, yang dapat disertai atau tida disertai infeksi. Penyakit ini biasanya menyertai laktasi, sehingga disebut juga mastitis laktasional atau mastitis puerperalis. Mastitis infeksi dapat terjadi ketika bakteri memasuki payudara sementara menyusui. Puting susu dapat menjadi retak atau sakit akibat menyusui. Hal ini dapat terjadi bila posisi bayi pada saat menyusui tidak sesuai. Gesekan dengan mulut bayi yang terus menerus akan mampu membuat puting susu mengalami luka lecet, perasaan perih ini aan terus dirasakan ibu ketika menyusui bayi. Bakteri pada permukaan kulit dan mulut bayi memasuki saluran susu dan berkembang biak, sehingga menyebabkan rasa sakit dan pembengkakan payudara karena infeksi. Mastitis dapat disebabkan karena keradangan biasa atau oleh agen infeksi seperti bakteri dan jamur. Bakteri yang dapat menimbulkan mastitis yaitu Staphylococcus aureus. Dampak pada anak : Meski terasa sakit pada saat terserang mastitis, gangguan ini tida akan membawa dampak negatif pada bayi. Kendatipun kuman - pada infektif mastitis - mungkin berasal dari mulut bayi. Infektif dan bayi menelan bakteri dalam susu, maka akan dibunuh oleh asam dalam perutnya. Akibatnya bayi tersebut tidak mendapat asupan gizi yang baik.

11. Anamnesis

• Keluhan utama: nyeri pada payudara kiri

• Keluhan tambahan: terasa keras dan tampak keluar cairan kental kekuningan dari permukaan kulit yang retak-retak.

• Riwayat penyakit sekarang

• Riwayat penyakit dahulu

• Riwayat penyakit keluarga Pemeriksaan fisik Status Generalis

• TNR

• Kepala

• Mata

• Thorak

• Cor

• Pulmo

• Abdomen

• Ekstremitas atas dan bawah Status Lokalis

• Regio mammae sinistra: o Inspeksi o Palpasi

Penanganan:

 Teruskan pemberian ASI meski payudara mengalami abses atau pembengkakan. Tahan sakit. Pemberian ASI mempercepat penyembuhan.

 Kompres payudara dengan air hangat atau kain dibasahi air hangat.

 Cukup istrirahat dan tidur agar tubuh aktif memproduksi sistem imun guna memerangi infeksi mastitis.

 Minum antibiotik sesuai resep dokter.

 Makan makanan yang bergizi tinggi.

 Minum banyak air putih juga akan membantu menurunkan demam.

12. Sistem Imun tubuh Imunologi menurut pengertian saat ini adalah ilmu yang mempelajari tentang respons imun dalam arti luas dam mempelajari peristiwa seluler dan molekuler yang terjadi setelah tubuh terpapar mikroba atau makromolekul asing. Lingkungan di sekitar manusia mengandung berbagai jenis patogen, misalnya bakteri, virus, fungus, protozoa dan parasit yang dapat menyebabakan infeksi pada manusia. Infeksi yang terjadi pada orang normal umumnya singkat dan jarang meninggalkan kerusakan permanen. Hal ini disebabkan tubuh manusia memilii suatu sistem yang disebut sistem imun yang memberikan respons dan melindungi tubuh terhadap unsur-unsur patogen tersebut. Respons imun sangat bergantung pada kemampuan sistem imun untuk mengenali molekul asing (antigen) yang terdapat pada patogen potensial dan kemudian membangkitkan reaksi yang tepat untuk menyingkirkan sumber antigen itu. Unsur utama sistem imin adalah limfosit. Limfosit pada seorang individu melakukan diversifikasi selama perkembangannya demikian rupa sehingga populasi limfosit secara keseluruhan mampu mengenal molekul asing dan membedakannya dari molekul jaringan atau sel tubuh sendiri. Kemampuan diversifikasi dimiliki oleh komponen-komponen sistem imun yang terdapat dalam jaringan limforetikuler yang letaknya tersebar diseluruh tubuh, misalnya dalam sumsum tulang, kelenjar limfe, limpa, thymus, sistem saluran nafas, saluran cerna dan organ-organ lain. Rangsangan terhadap sel-sel tersebut terjadi apabila didalam tubuh masuk suatu zat yang oleh sel atau jaringan tadi dianggap asing. Sistem imun dapat membedakan zat asing (non self) dari zat yang berasal dari tubuh sendiri (self). Pada keadaan patologik, sistem imun tidak dapat membedakan self dan non-self sehingga sel-sel dalam sistem imun membentuk zat anti terhadap jaringan tubuhnya sendiri. Zat itu disebut antibodi.

13. penatalaksanaan Pengobatan radang payudara pada ibu menyusui bila sampai mengeluarkan nanah maka pemberian ASI dihentikan dulu, Pemberian terapi obat -obatan harus sesuai petunjuk tenaga kesehatan. Perbanyak minum air putih 2 liter setiap hari selama masa menyusui terutama bila terserang infeksi / radang payudara. Catatan: pada hari ke tiga dan ke empat biasanya payudara ibu akan tampak bengkak dan nyeri, ini disebabkan produksi ASI meningkat dan bukan radang payudara. Juga beberapa kelenjar payudara akan tampak benjolan dan bengkak bahkan sampai di ketiak, selama produksi ASI lancar, bayi menghisap baik maka ibu tak perlu cemas.

14. Edukasi bagi ibu dan bayinya

• Ibu perlu istirahat. Istirahat akan menghilangkan stres dan meningkatkan kekebalan tubuh kembali.

• Ibu dianjurkan agar tetap menyusui. ASI tetap harus dikeluarkan dengan tangan atau pompa. Jangan berhenti menyusui meskipun payudara meradang Penghentian ini dapat menyebabkan terjadinya infeksi kuman penyakit pada payudara yang dapat berlanjut menjadi abses payudara (payudara bernanah). Susuilah bayi lebih sering di payudara yang meradang. Susuilah payudara yang meradang sampai kosong, karena apabila ada yang tersisa, maka payudara akan lebih mudah terinfeksi kembali. Sebaiknya langsung susui bayi (jangan mengambil susu dengan pompa), kecuali jika terpaksa karena bayi menolak menyusu.

• Minum antibiotika yang sesuai (berobat ke dokter).

• Untuk mengurangi rasa sakit boleh mengkompres dengan kompres hangat atau dingin dan minum obat pengurang rasa sakit. Kompres payudara secara bergantian. Kompres dingin menghilangkan rasa nyeri, sedangkan kompres panas membantu memerangi peradangan.

• Pijat daerah yang sakit Pemijatan akan meningkatkan sirkulasi, mengurangi penyumbatan payudara, serta membantu meningkatkan faktor imunitas di payudara. Pijatlah payudara Anda sambil mandi air hangat atau berendam air hangat. • Mulailah menyusui dengan payudara yang sehat Setelah itu baru ganti ke payudara yang sakit. Cara ini akan mengurangi nyeri saat menyusu. Bayi mungkin saja menolak untuk menyusu pada payudara yang meradang. Hal ini disebabkan karena peradangan pada kelenjar susu meningkatkan kadar sodium (garam) sehingga rasa ASI menjadi asin.

• Abses payudara. Bila sampai terjadi abses, penatalaksanaan seperti diatas. Selain itu nanah yang terbentuk perlu dikeluarkan dengan insisi. Selama luka bekas insisi belum sembuh bayi disusukan dari payudara yang sehat.

15. Prognosis Untuk radang payudara, jika penanganan tepat prognosis nya adalah baik. Kesimpulan: Ibu 27 tahun mengalami Mastits puerperalis yakni radang payudara pada ibu menyusui akibat infeksi kuman pada jaringan payudara.

Sumber:

• Robbins and Cotrans. Pathologic Basic of Disease, 8th Edition. Kieman, Abbas, Fausto.

• Buku “ IMULOGI : Diangnosis dan Prosedur Laboratorium” FUKI

http://kesehatan.kompasiana.com/ibu-dan-anak/2010/06/04/perawatan-payudara-dan-solusi-permasalahan-ibu-menyusui/

http://kesehatan.kompasiana.com/ibu-dan-anak/2010/05/31/tips-penting-untuk-ibu-menyusui/

http://herrysetyayudha.wordpress.com/2011/11/06/kelainan-pada-payudara-breast-disease-disorder/

http://www.idai.or.id/asi/artikel.asp?q=2009416134551

ada tanggapan ato masukan??

Laporan Skenario 2 *new*

Skenario 2 Seorang ibu, 27 tahun, sementara menyusui bayinya yang berusia 2 bulan. Ibu ini mengeluh payudara sebelah kirinya kemerahan, nyeri, teraba keras dan tampak keluar cairan kental kekuningan dari permukaan kulit yang retak-retak sejak 5 hari yang lalu. Ibu juga mengeluh badannya terasa panas. • Kata Sulit : - • Kata Kunci : - Wanita 27 tahun; - Payudara sebelah kirinya kemerahan, nyeri, teraba keras dan tampak keluar cairan kental kekuningan; - Permukaan kulit retak sejakk 5 hari yang lalu; - Mengeluh badannya terasa panas. • Masalah Dasar : Ibu 27 tahun mengeluh badannya terasa panas akibat radang payudara • Pertanyaan-pertanyaan: 1. Jelaskan etiologi radang payudara sampai tingkat seluler dan molekuler ! 2. Jelaskan patomekanisme radang payudara sampai tingkat seluler dan molekuler ! 3. Jelaskan mekanisme terjadinya demam sampai tingkat seluler dan molekuler ! 4. Apa yang menyebabkan payudara kemerahan, nyeri, teraba keras dan tampak keluar cairan kental kekuningan ? 5. Jelaskan definisi radang ! 6. Jelaskan klasifikasi radang ! 7. Jelaskan mediator-mediator kimia apa saja yang berperan pada proses radang ! 8. Jelaskan tentang radang kronik, bagaimana terjadinya radang kronik, dan jelaskan tentang sel-sel radang kronik ! 9. Jelaskan gambaran morfologi radang akut dan kronik ! 10. Bagaimana sampai terjadinya retak pada payudara ibu tersebut dan apa dampak terhadap anak ? 11. Anamnesis, pemeriksaan fisik dan penanganan pada kasus ini ! 12. Jelaskan tentang sistem imun tubuh ! 13. Edukasi terhadap ibu dan anak pada kasus ini ! 14. Penatalaksanaan pada kasus ini ! 15. Prognosis untuk kasus ini ! Pembahasan 1. Etiologi mastitis Radang payudara, adalah peradangan pada payudara yang disebabkan oleh infeksi pada jaringan payudara atau karena penyumbatan. Mastitis dibagi menjadi 3 periductal mastitis yaitu mastitis pueperalis, dan supurativa mastitis. Dua penyebab utama dari mastitis adalah stasis (terhenti) ASI dan infeksi. Patogen yang paling sering diidentifikasi adalah staphylococcus auereus. Penyebab yang lain: • Daya tahan tubuh yang lemah dan kurangnya menjaga kebersihan puting payudara saat menyusui. • Saluran ASI tersumbat tidak segera diatasi sehingga menjadi mastitis. Dua penyebab utama mastitis adalah statis ASI dan infeksi. Statis ASI biasanya merupakan penyebab primer, yang dapat disertai atau berkembang menuju infeksi. Gunther pada tahun 1958 menyimpulkan dari pengamatan klinis bahwa mastitis diakibatkan oleh stagnasi ASI di dalam payudara, dan bahwa pengeluaran ASI yang efisien dapat mencegah keadaan tersebut. Ia menyatakan bahwa infeksi, bila terjadi, bukan primer, tetapi di akibatkan oleh stagnasi ASI sebagai media pertumbuhan bakteri. Thomsen dan kawan-kawan pada tahun 1984 menghasukjan bukti tambahan tentang pentingnya ASI dengan tanda klinis mastitis dan mengajukan klasifikasi berikut ini. • Statis ASI • Inflamasi noninfeksiosa (atau mastitis noninfeksiosa) • Mastitis infeksiosa Pada studi acak, mereka menemukan bahwa statis ASI (leukosit 106 dan bakteri 106 dan bakteri >103) hanya dapat diobati dengan efektif dengan pemerasan ASI dan antibiotik sistemik. Tanpa pengeluaran ASI yang efektif, mastitis noninfeksiosa sering berkembang menjadi mastitis infeksiosa, dan mastitis infeksiosa menjadi pembetukan abses. Thomsen dkk juga menghubungkan hitung sel dan bakteri dengan temuan klinis, dan diketahui bahwa infeksi tidak mungkin ditentukan hanya dari tanda-tanda klinis. 2. 3. Demam terjadi bila berbagai proses infeksi dan noninfeksi berinteraksi dengan mekanisme pertahanan hospes. Dimana mekanisme tersebut menyebabkan perubahan pengaturan homeostatik suhu normal pada hipotalamus yang dapat disebabkan antara lain oleh infeksi, vaksin, agen biologis, jejas jaringan, keganasan, obat-obatan, gangguan imunologik-reumatologik, penyakit peradangan, penyakit granulomatosis, ganggguan endokrin, ganggguan metabolik, dan bentuk-bentuk yang belum diketahui atau kurang dimengerti. Jalur akhir penyebab demam yang paling sering adalah adanya pirogen, yang kemudian secara langsung mengubah “set-point” di hipotalamus, menghasilkan pembentukan panas dan konversi panas. Pirogen adalah suatu zat yang menyebabkan demam, terdapat 2 jenis pirogen yaitu pirogen eksogen dan pirogen endogen. Pirogen eksogen berasal dari luar tubuh yaitu pirogen mikrobial dan pirogen non-mikrobial. Pirogen mikrobial diantaranya seperti bakteri gram positif, bakteri gram negatif, virus maupun jamur; sedangkan pirogen non-mikrobial antara lain proses fagositosis, kompleks antigen-antibodi, steroid dan sistem monosit-makrofag; yang keseluruhannya tersebut mempunyai kemampuan untuk merangsang pelepasan pirogen endogen yang disebut dengan sitokin yang diantaranya yaitu interleukin-1 (IL-1), Tumor Necrosis Factor (TNF), limfosit yang teraktivasi, interferon (INF), interleukin-2 (IL-2) dan Granulocyte-macrophage colony-stimulating factor (GM-CSF). Sebagian besar sitokin ini dihasilkan oleh makrofag yang merupakan akibat reaksi terhadap pirogen eksogen. Dimana sitokin-sitokin ini merangsang hipotalamus untuk meningkatkan sekresi prostaglandin, yang kemudian dapat menyebabkan peningkatan suhu tubuh. 4. Payudara mengalami kemerahan , nyeri,keluar cairan kuning,dan permukaan kulit retak2 dikarenakan terjadi abses payudara (radang) . Peradangan payudara atau yang disebut mastitis dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, perembesan sekresi melalui fisura di puting, dan dermatitis yang mengenai puting. Bakteri yang sering menyebabkan terjadinya mastitis ini adalah Stafilokokus aureus atau streptokok. Mastitis sering terjadi pada pascapartum selama awal laktasi jika organisme berhasil masuk dan mencapai jaringan payudara melalui fisura pada puting. Gejala dan tanda yang sering ditimbulkan oleh abses payudara adalah tanda-tanda inflamasi pada payudara (merah, panas jika disentuh, membengkak, dan nyeri tekan), keluar nanah/pus dari puting, teraba massa, gejala sistemik berupa demam tinggi, menggigil, malaise, dan timbul limfadenopati pectoralis, axiller, parasternalis, dan subclavia. Adapun patogenesis dari abses payudara adalah: -luka/lesi pada puting -organisme masuk (organisme ini biasanya dari mulut bayi) -peradangan - terjadi penyumbatan duktus -produksi susu normal - pengeluaran susu terhambat -terbetuk abses. Penanganan yang dapat dilakukan untuk mastitis adalah pemanasan lokal, antipiretik dan analgesik ringan, pengosongan payudara berkala dengan terus memberikan ASI atau memompa, dan terapi antibiotika oral. Namun jika sudah terjadi abses, perlu diberikan antibiotik intravena, aspirasi, atau insisi dan jika perlu drainase. Setiap cairan aspirasi perlu dilakukan pemeriksaan histologik untuk menyingkirkan keganasan. Imunologi menurut pengertian saat ini adalah ilmu yang mempelajari tentang respons imun dalam arti luas dam mempelajari peristiwa seluler dan molekuler yang terjadi setelah tubuh terpapar mikroba atau makromolekul asing. Lingkungan di sekitar manusia mengandung berbagai jenis patogen, misalnya bakteri, virus, fungus, protozoa dan parasit yang dapat menyebabakan infeksi pada manusia. Infeksi yang terjadi pada orang normal umumnya singkat dan jarang meninggalkan kerusakan permanen. Hal ini disebabkan tubuh manusia memilii suatu sistem yang disebut sistem imun yang memberikan respons dan melindungi tubuh terhadap unsur-unsur patogen tersebut. Respons imun sangat bergantung pada kemampuan sistem imun untuk mengenali molekul asing (antigen) yang terdapat pada patogen potensial dan kemudian membangkitkan reaksi yang tepat untuk menyingkirkan sumber antigen itu. Unsur utama sistem imin adalah limfosit. Limfosit pada seorang individu melakukan diversifikasi selama perkembangannya demikian rupa sehingga populasi limfosit secara keseluruhan mampu mengenal molekul asing dan membedakannya dari molekul jaringan atau sel tubuh sendiri. Kemampuan diversifikasi dimiliki oleh komponen-komponen sistem imun yang terdapat dalam jaringan limforetikuler yang letaknya tersebar diseluruh tubuh, misalnya dalam sumsum tulang, kelenjar limfe, limpa, thymus, sistem saluran nafas, saluran cerna dan organ-organ lain. Rangsangan terhadap sel-sel tersebut terjadi apabila didalam tubuh masuk suatu zat yang oleh sel atau jaringan tadi dianggap asing. Sistem imun dapat membedakan zat asing (non self) dari zat yang berasal dari tubuh sendiri (self). Pada keadaan patologik, sistem imun tidak dapat membedakan self dan non-self sehingga sel-sel dalam sistem imun membentuk zat anti terhadap jaringan tubuhnya sendiri. Zat itu disebut antibodi. 5. Definisi Radang Radang adalah sederetan respon fisiologis jaringan yang mengandung vaskuler terhadap cedera jaringan. 6. Klasifikasi radang berdasarkan waktu: • Menurut waktu berlangsung: – Akut (mendadak): à disebut juga radang eksudatif • Waktu berlangsungnya relatif lebih pendek • Berakhir dalam beberapa menit, jam, atau hari (sampai 2 hari) • Tanda khas utama: – 1.EKSUDASI CAIRAN DAN PROTEIN PLASMA – 2.EMIGRASI LEKOSIT TERUTAMA PMN – Subakut: antara radang akut dan kronik – Kronik (menahun): • Waktu berlangsungnya lebih panjang (bisa bertahun-tahun) • Secara histologis: – Adanya sel-sel limfosit dan makrofag – Proliferasi pembuluh darah – Fibrosis – Nekrosis jaringan • Menurut sifatnya: – Radang spesifik:misalnya tuberkulose, lues, dan lepra dimana radang ini memberi gambaran yg spesifik. – Radang tidak spesifik: yang memberi gambaran yang berbeda-beda walaupun agen penyebabnya sama. • Menurut pemakaian dalam klinis: – Menurut eksudat: serosa, fibrinosa, purulen, hemoragik, kataralis – Radang produktif/proliferatif/formatif: – Pertumbuhan jaringan ikat/epitel yang berlebihan – Radang alternatif atau parenkimatik: terjadi pada organ-organ parenkim spt. Hati, jantung,dll. Tdapat degenerasi dengan fokus-fokus nekrosis • Menurut jenis lokalisasi dan reaksi: Abses, selulitis, ulkus, radang membranosa • 5.Menurut penyebab/etiologi: – Agen hidup: Artropoda,helminta,protozoa,bakteri,virus,dll – Agen mati: Mekanis/trauma,termis(panas&dingin),sinar (UV,RO,infrared), listrik, kimia – Alergik dan hipersensisitivitas 7. Sel radang mengeluarkan histamine, sitokin, dan leukotrien yg dibuat oleh tubuh kita yg membuat proses peradangan terus berlangsung. • Histamin Dilepaskan oleh basofil, trombosit, dan sel mast. Histamine ikut berkontribusi terhadap thapan respons vascular thdp peradangan. • Sitokin Berfungsi sbg hormone local yg mmpengaruhi respons prtahanan penjamu thdp cedera atau infeksi. • Leukotrien Meningkatkan permeabilitas vascular dan meningkatkan adesi sel darah putih ke kapiler selama cedera atau infeksi. • Prostaglandin Perantara penting peradangan. Meningkatkan aliran darah ke tempat peradangan dan meningkatkan permeabilitas vascular. • Interferon Khusus untuk mencegah infeksi intrasel oleh virus atau parasit. • Kemokin Sebagai agen kemoktatik untuk mengatur pergerakan leukosit. 8. Menjelaskan Tentang Radang Kronik • = radang yang berlangsung lama (minggu-minggu atau bulan-bulan) à radang tsb. Aktif, ada destruksi jaringan, dan adanya tanda-tanda penyembuhan berjalan bersama-sama • Dapat terjadi pada : 1. Infeksi persisten: oleh mikroorganisme tertentu. Biasanya toksisitas rendah, tetapi menimbulkan reaksi imunologik disebut ‘delayed hypersensitivity’ Bagaimana Terjadi Radang kronik Radang kronik merupakan perkembangan dari peradagan akut perubahan ini terjadi ketika respons akut perubahan ini terjadi ketika respons akut tidak teratasi karena gen cedera yang menetapatu karena gangguan proses penyembuhan normal kemungkinan lain beberapa bentk jenis misalnya infeksi virus menimbulkan respons yaitu infalmasi kronik yang pada dasarnya sejak awal. Sel sel radang kronik seperti makrofag - Salah satu komponen dari sistim fagosit mononuklear. Sistim fagosit mononuklear terdiri dari sel-sel yang berasal dari sumsum tulang mencakup: - Monosit darah dan - Makrofag jaringan - Makrofag jaringan antara lain: - Berada dalam jaringan ikat atau - Dalam organ, misalnya: - Sel Kupffer à hati - Sinus histiosit à limfonodus - Makrofag alveoli à rongga/alveoli paru-paru Semuanya berasal dari prekursor di dalam sumsum tulangà (stem cell) à monosit darah • Makrofag à unsur yg sentral dalam radang kronik karena makrofag dapat menghasilkan produk yang aktif. • Beberapa produk aktif makrofag adalah: – Toksik terhadap sel: misalnya metabolit O2 dan NO; atau matriks ekstraseluler misalnya protease – Menyebabkan influks jenis sel-sel lain, seperti: sitokin, faktor kemotaksis – Menyebabkan proliferasi fibroblast dan deposito kolagen (growth factor) Jadi senjata mediator yang dibuat makrofag sangat kuat untuk pertahanan tubuh, tetapi pada waktu yang sama senjata ini juga menginduksi kerusakan jaringan bila makrofag diaktifkan secara tidak tepat LIMFOSIT - Limfosit à pada reaksi imun diperantarai antibodi dan sel; dan radang diperantarai non imun - Limfosit jenis T, B, atau states menggunakan pelbagai molekul adhesi (VCAM-1; ICAM-1; dan LFA-1); dan mediator-mediator kimia (terutama sitokin) untuk bermigrasi ke tempat radang - Limfosit dapat diaktifkan melalui kontak dengan antigen. Limfosit aktif à produksi à limfokin dan merupakan suatu stimulator utama untuk kemotaksis monosit, pengaktifan dan diferensiasi makrofag à oleh IFN-γ EOSINOFIL - Adalah karakteristik pada reaksi imun diperantarai IgE dan infeksi parasit - Penarikan eosinofil dari dalam sirkulasi darah dan kemudian berada dalam jaringan melalui proses yang sama seperti terjadi pada sel lekosit lain seperti PMN - Eosinofil mempunyai granula-granula yang mengandung Mayor Basic Protein (MBP): adalah protein yang sangat kationik yang toksik terhadap parasit. SEL MAST - Sel mast berdistribusi secara luas dalam jaringan ikat dan berpartisipasi pada proses radang akut - Sel mast mengekspresi reseptor permukaan yang mengikat bagian Fc dari antibodi IgE 9. Gambaran morfologi • Radang akut: (1) eksudasi cairan dan protein khusus (edema), dan (2) emigrasi leukosit terutama neutrofil (PMN). • Radang kronik: (1) infiltrasi sel monokuler mencakup makrofag, limfosit dan sel-sel plasma, (2) dekstrusi jaringan, sebagian besar dicetuskan oleh sel-sel radang, dan (3) mulai adanya penyembuhan dengan adanya pergantian jaringan yang rusak di sertai proliferasi pembuluh darah (angiogenesis) dan fibrosis. 10. Matasis adalah peradangan payudara, yang dapat disertai atau tida disertai infeksi. Penyakit ini biasanya menyertai laktasi, sehingga disebut juga mastitis laktasional atau mastitis puerperalis. Mastitis infeksi dapat terjadi ketika bakteri memasuki payudara sementara menyusui. Puting susu dapat menjadi retak atau sakit akibat menyusui. Hal ini dapat terjadi bila posisi bayi pada saat menyusui tidak sesuai. Gesekan dengan mulut bayi yang terus menerus akan mampu membuat puting susu mengalami luka lecet, perasaan perih ini aan terus dirasakan ibu ketika menyusui bayi. Bakteri pada permukaan kulit dan mulut bayi memasuki saluran susu dan berkembang biak, sehingga menyebabkan rasa sakit dan pembengkakan payudara karena infeksi. Mastitis dapat disebabkan karena keradangan biasa atau oleh agen infeksi seperti bakteri dan jamur. Bakteri yang dapat menimbulkan mastitis yaitu Staphylococcus aureus. Dampak pada anak : Meski terasa sakit pada saat terserang mastitis, gangguan ini tida akan membawa dampak negatif pada bayi. Kendatipun kuman - pada infektif mastitis - mungkin berasal dari mulut bayi. Infektif dan bayi menelan bakteri dalam susu, maka akan dibunuh oleh asam dalam perutnya. Akibatnya bayi tersebut tidak mendapat asupan gizi yang baik. 11. Anamnesis • Keluhan utama: nyeri pada payudara kiri • Keluhan tambahan: terasa keras dan tampak keluar cairan kental kekuningan dari permukaan kulit yang retak-retak. • Riwayat penyakit sekarang • Riwayat penyakit dahulu • Riwayat penyakit keluarga Pemeriksaan fisik Status Generalis • TNR • Kepala • Mata • Thorak • Cor • Pulmo • Abdomen • Ekstremitas atas dan bawah Status Lokalis • Regio mammae sinistra: o Inspeksi o Palpasi Penanganan  Teruskan pemberian ASI meski payudara mengalami abses atau pembengkakan. Tahan sakit. Pemberian ASI mempercepat penyembuhan.  Kompres payudara dengan air hangat atau kain dibasahi air hangat.  Cukup istrirahat dan tidur agar tubuh aktif memproduksi sistem imun guna memerangi infeksi mastitis.  Minum antibiotik sesuai resep dokter.  Makan makanan yang bergizi tinggi.  Minum banyak air putih juga akan membantu menurunkan demam. 12. Sistem Imun tubuh Imunologi menurut pengertian saat ini adalah ilmu yang mempelajari tentang respons imun dalam arti luas dam mempelajari peristiwa seluler dan molekuler yang terjadi setelah tubuh terpapar mikroba atau makromolekul asing. Lingkungan di sekitar manusia mengandung berbagai jenis patogen, misalnya bakteri, virus, fungus, protozoa dan parasit yang dapat menyebabakan infeksi pada manusia. Infeksi yang terjadi pada orang normal umumnya singkat dan jarang meninggalkan kerusakan permanen. Hal ini disebabkan tubuh manusia memilii suatu sistem yang disebut sistem imun yang memberikan respons dan melindungi tubuh terhadap unsur-unsur patogen tersebut. Respons imun sangat bergantung pada kemampuan sistem imun untuk mengenali molekul asing (antigen) yang terdapat pada patogen potensial dan kemudian membangkitkan reaksi yang tepat untuk menyingkirkan sumber antigen itu. Unsur utama sistem imin adalah limfosit. Limfosit pada seorang individu melakukan diversifikasi selama perkembangannya demikian rupa sehingga populasi limfosit secara keseluruhan mampu mengenal molekul asing dan membedakannya dari molekul jaringan atau sel tubuh sendiri. Kemampuan diversifikasi dimiliki oleh komponen-komponen sistem imun yang terdapat dalam jaringan limforetikuler yang letaknya tersebar diseluruh tubuh, misalnya dalam sumsum tulang, kelenjar limfe, limpa, thymus, sistem saluran nafas, saluran cerna dan organ-organ lain. Rangsangan terhadap sel-sel tersebut terjadi apabila didalam tubuh masuk suatu zat yang oleh sel atau jaringan tadi dianggap asing. Sistem imun dapat membedakan zat asing (non self) dari zat yang berasal dari tubuh sendiri (self). Pada keadaan patologik, sistem imun tidak dapat membedakan self dan non-self sehingga sel-sel dalam sistem imun membentuk zat anti terhadap jaringan tubuhnya sendiri. Zat itu disebut antibodi. 13. Edukasi bagi ibu dan bayinya • Ibu perlu istirahat. Istirahat akan menghilangkan stres dan meningkatkan kekebalan tubuh kembali. • Ibu dianjurkan agar tetap menyusui. ASI tetap harus dikeluarkan dengan tangan atau pompa. Jangan berhenti menyusui meskipun payudara meradang Penghentian ini dapat menyebabkan terjadinya infeksi kuman penyakit pada payudara yang dapat berlanjut menjadi abses payudara (payudara bernanah). Susuilah bayi lebih sering di payudara yang meradang. Susuilah payudara yang meradang sampai kosong, karena apabila ada yang tersisa, maka payudara akan lebih mudah terinfeksi kembali. Sebaiknya langsung susui bayi (jangan mengambil susu dengan pompa), kecuali jika terpaksa karena bayi menolak menyusu. • Minum antibiotika yang sesuai (berobat ke dokter). • Untuk mengurangi rasa sakit boleh mengkompres dengan kompres hangat atau dingin dan minum obat pengurang rasa sakit. Kompres payudara secara bergantian. Kompres dingin menghilangkan rasa nyeri, sedangkan kompres panas membantu memerangi peradangan. • Pijat daerah yang sakit Pemijatan akan meningkatkan sirkulasi, mengurangi penyumbatan payudara, serta membantu meningkatkan faktor imunitas di payudara. Pijatlah payudara Anda sambil mandi air hangat atau berendam air hangat. • Mulailah menyusui dengan payudara yang sehat Setelah itu baru ganti ke payudara yang sakit. Cara ini akan mengurangi nyeri saat menyusu. Bayi mungkin saja menolak untuk menyusu pada payudara yang meradang. Hal ini disebabkan karena peradangan pada kelenjar susu meningkatkan kadar sodium (garam) sehingga rasa ASI menjadi asin. • Abses payudara Bila sampai terjadi abses, penatalaksanaan seperti diatas. Selain itu nanah yang terbentuk perlu dikeluarkan dengan insisi. Selama luka bekas insisi belum sembuh bayi disusukan dari payudara yang sehat. 14. Penatalaksanaan: Pengobatan radang payudara pada ibu menyusui bila sampai mengeluarkan nanah maka pemberian ASI dihentikan dulu, Pemberian terapi obat -obatan harus sesuai petunjuk tenaga kesehatan. Perbanyak minum air putih 2 liter setiap hari selama masa menyusui terutama bila terserang infeksi / radang payudara. Catatan: pada hari ke tiga dan ke empat biasanya payudara ibu akan tampak bengkak dan nyeri, ini disebabkan produksi ASI meningkat dan bukan radang payudara. Juga beberapa kelenjar payudara akan tampak benjolan dan bengkak bahkan sampai di ketiak, selama produksi ASI lancar, bayi menghisap baik maka ibu tak perlu cemas. 15. Prognosis Untuk radang payudara, jika penanganan tepat prognosis nya adalah baik. Kesimpulan: Ibu 27 tahun mengalami Mastits puerperalis yakni radang payudara pada ibu menyusui akibat infeksi kuman pada jaringan payudara. Sumber: • Robbins and Cotrans. Pathologic Basic of Disease, 8th Edition. Kieman, Abbas, Fausto. • Buku “ IMULOGI : Diangnosis dan Prosedur Laboratorium” FUKI • http://kesehatan.kompasiana.com/ibu-dan-anak/2010/06/04/perawatan-payudara-dan-solusi-permasalahan-ibu-menyusui/http://kesehatan.kompasiana.com/ibu-dan-anak/2010/05/31/tips-penting-untuk-ibu-menyusui/http://herrysetyayudha.wordpress.com/2011/11/06/kelainan-pada-payudara-breast-disease-disorder/http://www.idai.or.id/asi/artikel.asp?q=2009416134551 ada tanggapan ato masukan?

Laporan Skenario 2

Skenario 2

Seorang ibu, 27 tahun, sementara menyusui bayinya yang berusia 2 bulan. Ibu ini mengeluh payudara sebelah kirinya kemerahan, nyeri, teraba keras dan tampak keluar cairan kental kekuningan dari permukaan kulit yang retak-retak sejak 5 hari yang lalu. Ibu juga mengeluh badannya terasa panas.

” Kata Sulit : -
” Kata Kunci : - Wanita 27 tahun;
- Payudara sebelah kirinya kemerahan, nyeri, teraba keras dan tampak keluar cairan kental kekuningan;
- Permukaan kulit retak sejakk 5 hari yang lalu;
- Mengeluh badannya terasa panas.
” Masalah Dasar : Ibu 27 tahun mengeluh badannya terasa panas akibat radang payudara
” Pertanyaan-pertanyaan:
1. Jelaskan etiologi radang payudara sampai tingkat seluler dan molekuler !
2. Jelaskan patomekanisme radang payudara sampai tingkat seluler dan molekuler !
3. Jelaskan mekanisme terjadinya demam sampai tingkat seluler dan molekuler !
4. Apa yang menyebabkan payudara kemerahan, nyeri, teraba keras dan tampak keluar cairan kental kekuningan ?
5. Jelaskan definisi radang !
6. Jelaskan klasifikasi radang !
7. Jelaskan mediator-mediator kimia apa saja yang berperan pada proses radang !
8. Jelaskan tentang radang kronik, bagaimana terjadinya radang kronik, dan jelaskan tentang sel-sel radang kronik !
9. Jelaskan gambaran morfologi radang akut dan kronik !
10. Bagaimana sampai terjadinya retak pada payudara ibu tersebut dan apa dampak terhadap anak ?
11. Anamnesis, pemeriksaan fisik dan penanganan pada kasus ini !
12. Jelaskan tentang sistem imun tubuh !
13. Edukasi terhadap ibu dan anak pada kasus ini !
14. Penatalaksanaan pada kasus ini !
15. Prognosis untuk kasus ini !

Pembahasan

1. Etiologi mastitis

Radang payudara, adalah peradangan pada payudara yang disebabkan oleh infeksi pada jaringan payudara atau karena penyumbatan. Mastitis dibagi menjadi 3 periductal mastitis yaitu mastitis pueperalis, dan supurativa mastitis.
Dua penyebab utama dari mastitis adalah stasis (terhenti) ASI dan infeksi. Patogen yang paling sering diidentifikasi adalah staphylococcus auereus.
Penyebab yang lain:
” Daya tahan tubuh yang lemah dan kurangnya menjaga kebersihan puting payudara saat menyusui.
” Saluran ASI tersumbat tidak segera diatasi sehingga menjadi mastitis.
Dua penyebab utama mastitis adalah statis ASI dan infeksi. Statis ASI biasanya merupakan penyebab primer, yang dapat disertai atau berkembang menuju infeksi.
Gunther pada tahun 1958 menyimpulkan dari pengamatan klinis bahwa mastitis diakibatkan oleh stagnasi ASI di dalam payudara, dan bahwa pengeluaran ASI yang efisien dapat mencegah keadaan tersebut. Ia menyatakan bahwa infeksi, bila terjadi, bukan primer, tetapi di akibatkan oleh stagnasi ASI sebagai media pertumbuhan bakteri.
Thomsen dan kawan-kawan pada tahun 1984 menghasukjan bukti tambahan tentang pentingnya ASI dengan tanda klinis mastitis dan mengajukan klasifikasi berikut ini.
” Statis ASI
” Inflamasi noninfeksiosa (atau mastitis noninfeksiosa)
” Mastitis infeksiosa
Pada studi acak, mereka menemukan bahwa statis ASI (leukosit 106 dan bakteri 106 dan bakteri >103) hanya dapat diobati dengan efektif dengan pemerasan ASI dan antibiotik sistemik. Tanpa pengeluaran ASI yang efektif, mastitis noninfeksiosa sering berkembang menjadi mastitis infeksiosa, dan mastitis infeksiosa menjadi pembetukan abses.
Thomsen dkk juga menghubungkan hitung sel dan bakteri dengan temuan klinis, dan diketahui bahwa infeksi tidak mungkin ditentukan hanya dari tanda-tanda klinis.
2.
3. Demam terjadi bila berbagai proses infeksi dan noninfeksi berinteraksi dengan mekanisme pertahanan hospes. Dimana mekanisme tersebut menyebabkan perubahan pengaturan homeostatik suhu normal pada hipotalamus yang dapat disebabkan antara lain oleh infeksi, vaksin, agen biologis, jejas jaringan, keganasan, obat-obatan, gangguan imunologik-reumatologik, penyakit peradangan, penyakit granulomatosis, ganggguan endokrin, ganggguan metabolik, dan bentuk-bentuk yang belum diketahui atau kurang dimengerti.
Jalur akhir penyebab demam yang paling sering adalah adanya pirogen, yang kemudian secara langsung mengubah “set-point” di hipotalamus, menghasilkan pembentukan panas dan konversi panas. Pirogen adalah suatu zat yang menyebabkan demam, terdapat 2 jenis pirogen yaitu pirogen eksogen dan pirogen endogen. Pirogen eksogen berasal dari luar tubuh yaitu pirogen mikrobial dan pirogen non-mikrobial. Pirogen mikrobial diantaranya seperti bakteri gram positif, bakteri gram negatif, virus maupun jamur; sedangkan pirogen non-mikrobial antara lain proses fagositosis, kompleks antigen-antibodi, steroid dan sistem monosit-makrofag; yang keseluruhannya tersebut mempunyai kemampuan untuk merangsang pelepasan pirogen endogen yang disebut dengan sitokin yang diantaranya yaitu interleukin-1 (IL-1), Tumor Necrosis Factor (TNF), limfosit yang teraktivasi, interferon (INF), interleukin-2 (IL-2) dan Granulocyte-macrophage colony-stimulating factor (GM-CSF). Sebagian besar sitokin ini dihasilkan oleh makrofag yang merupakan akibat reaksi terhadap pirogen eksogen. Dimana sitokin-sitokin ini merangsang hipotalamus untuk meningkatkan sekresi prostaglandin, yang kemudian dapat menyebabkan peningkatan suhu tubuh.
4. Payudara mengalami kemerahan , nyeri,keluar cairan kuning,dan permukaan kulit retak2 dikarenakan terjadi abses payudara (radang) .
Peradangan payudara atau yang disebut mastitis dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, perembesan sekresi melalui fisura di puting, dan dermatitis yang mengenai puting. Bakteri yang sering menyebabkan terjadinya mastitis ini adalah Stafilokokus aureus atau streptokok. Mastitis sering terjadi pada pascapartum selama awal laktasi jika organisme berhasil masuk dan mencapai jaringan payudara melalui fisura pada puting. Gejala dan tanda yang sering ditimbulkan oleh abses payudara adalah tanda-tanda inflamasi pada payudara (merah, panas jika disentuh, membengkak, dan nyeri tekan), keluar nanah/pus dari puting, teraba massa, gejala sistemik berupa demam tinggi, menggigil, malaise, dan timbul limfadenopati pectoralis, axiller, parasternalis, dan subclavia.
Adapun patogenesis dari abses payudara adalah:
-luka/lesi pada puting
-organisme masuk (organisme ini biasanya dari mulut bayi)
-peradangan
- terjadi penyumbatan duktus
-produksi susu normal
- pengeluaran susu terhambat
-terbetuk abses.
Penanganan yang dapat dilakukan untuk mastitis adalah pemanasan lokal, antipiretik dan analgesik ringan, pengosongan payudara berkala dengan terus memberikan ASI atau memompa, dan terapi antibiotika oral. Namun jika sudah terjadi abses, perlu diberikan antibiotik intravena, aspirasi, atau insisi dan jika perlu drainase. Setiap cairan aspirasi perlu dilakukan pemeriksaan histologik untuk menyingkirkan keganasan.

5. Definisi Radang
Radang adalah sederetan respon fisiologis jaringan yang mengandung vaskuler terhadap cedera jaringan.
6. Klasifikasi radang berdasarkan waktu:
” Menurut waktu berlangsung:
- Akut (mendadak): disebut juga radang eksudatif
o Waktu berlangsungnya relatif lebih pendek
o Berakhir dalam beberapa menit, jam, atau hari (sampai 2 hari)
o Tanda khas utama:
- 1.EKSUDASI CAIRAN DAN PROTEIN PLASMA
- 2.EMIGRASI LEKOSIT TERUTAMA PMN
- Subakut: antara radang akut dan kronik
- Kronik (menahun):
o Waktu berlangsungnya lebih panjang (bisa bertahun-tahun)
o Secara histologis:
- Adanya sel-sel limfosit dan makrofag
- Proliferasi pembuluh darah
- Fibrosis
- Nekrosis jaringan
” Menurut sifatnya:
- Radang spesifik:misalnya tuberkulose, lues, dan lepra dimana radang ini memberi gambaran yg spesifik.
- Radang tidak spesifik: yang memberi gambaran yang berbeda-beda walaupun agen penyebabnya sama.
” Menurut pemakaian dalam klinis:
- Menurut eksudat: serosa, fibrinosa, purulen, hemoragik, kataralis
- Radang produktif/proliferatif/formatif:
- Pertumbuhan jaringan ikat/epitel yang berlebihan
- Radang alternatif atau parenkimatik: terjadi pada organ-organ parenkim spt. Hati, jantung,dll. Tdapat degenerasi dengan fokus-fokus nekrosis
” Menurut jenis lokalisasi dan reaksi:
Abses, selulitis, ulkus, radang membranosa
” 5.Menurut penyebab/etiologi:
- Agen hidup:
Artropoda,helminta,protozoa,bakteri,virus,dll
- Agen mati:
Mekanis/trauma,termis(panas&dingin),sinar (UV,RO,infrared), listrik, kimia
- Alergik dan hipersensisitivitas

7. Sel radang mengeluarkan histamine, sitokin, dan leukotrien yg dibuat oleh tubuh kita yg membuat proses peradangan terus berlangsung.
” Histamin
Dilepaskan oleh basofil, trombosit, dan sel mast. Histamine ikut berkontribusi terhadap thapan respons vascular thdp peradangan.
” Sitokin
Berfungsi sbg hormone local yg mmpengaruhi respons prtahanan penjamu thdp cedera atau infeksi.
” Leukotrien
Meningkatkan permeabilitas vascular dan meningkatkan adesi sel darah putih ke kapiler selama cedera atau infeksi.
” Prostaglandin
Perantara penting peradangan. Meningkatkan aliran darah ke tempat peradangan dan meningkatkan permeabilitas vascular.
” Interferon
Khusus untuk mencegah infeksi intrasel oleh virus atau parasit.
” Kemokin
Sebagai agen kemoktatik untuk mengatur pergerakan leukosit.
8. Menjelaskan Tentang Radang Kronik
o = radang yang berlangsung lama (minggu-minggu atau bulan-bulan) radang tsb. Aktif, ada destruksi jaringan, dan adanya tanda-tanda penyembuhan berjalan bersama-sama
o Dapat terjadi pada :
1. Infeksi persisten: oleh mikroorganisme tertentu. Biasanya toksisitas rendah, tetapi menimbulkan reaksi imunologik disebut ‘delayed hypersensitivity’
Bagaimana Terjadi Radang kronik
Radang kronik merupakan perkembangan dari peradagan akut perubahan ini terjadi ketika respons akut perubahan ini terjadi ketika respons akut tidak teratasi karena gen cedera yang menetapatu karena gangguan proses penyembuhan normal kemungkinan lain beberapa bentk jenis misalnya infeksi virus menimbulkan respons yaitu infalmasi kronik yang pada dasarnya sejak awal.
Sel sel radang kronik seperti makrofag
- Salah satu komponen dari sistim fagosit mononuklear. Sistim fagosit mononuklear terdiri dari sel-sel yang berasal dari sumsum tulang mencakup:
- Monosit darah dan
- Makrofag jaringan
- Makrofag jaringan antara lain:
- Berada dalam jaringan ikat atau
- Dalam organ, misalnya:
- Sel Kupffer hati
- Sinus histiosit limfonodus
- Makrofag alveoli rongga/alveoli paru-paru
Semuanya berasal dari prekursor di dalam sumsum tulang (stem cell) monosit darah
o Makrofag unsur yg sentral dalam radang kronik karena makrofag dapat menghasilkan produk yang aktif.
o Beberapa produk aktif makrofag adalah:
- Toksik terhadap sel: misalnya metabolit O2 dan NO; atau matriks ekstraseluler misalnya protease
- Menyebabkan influks jenis sel-sel lain, seperti: sitokin, faktor kemotaksis
- Menyebabkan proliferasi fibroblast dan deposito kolagen (growth factor)
Jadi senjata mediator yang dibuat makrofag sangat kuat untuk pertahanan tubuh, tetapi pada waktu yang sama senjata ini juga menginduksi kerusakan jaringan bila makrofag diaktifkan secara tidak tepat

LIMFOSIT
- Limfosit pada reaksi imun diperantarai antibodi dan sel; dan radang diperantarai non imun
- Limfosit jenis T, B, atau states menggunakan pelbagai molekul adhesi (VCAM-1; ICAM-1; dan LFA-1); dan mediator-mediator kimia (terutama sitokin) untuk bermigrasi ke tempat radang
- Limfosit dapat diaktifkan melalui kontak dengan antigen. Limfosit aktif produksi limfokin dan merupakan suatu stimulator utama untuk kemotaksis monosit, pengaktifan dan diferensiasi makrofag oleh IFN-?
EOSINOFIL
- Adalah karakteristik pada reaksi imun diperantarai IgE dan infeksi parasit
- Penarikan eosinofil dari dalam sirkulasi darah dan kemudian berada dalam jaringan melalui proses yang sama seperti terjadi pada sel lekosit lain seperti PMN
- Eosinofil mempunyai granula-granula yang mengandung Mayor Basic Protein (MBP): adalah protein yang sangat kationik yang toksik terhadap parasit.
SEL MAST
- Sel mast berdistribusi secara luas dalam jaringan ikat dan berpartisipasi pada proses radang akut
- Sel mast mengekspresi reseptor permukaan yang mengikat bagian Fc dari antibodi IgE
9. Gambaran morfologi
” Radang akut: (1) eksudasi cairan dan protein khusus (edema), dan (2) emigrasi leukosit terutama neutrofil (PMN).
” Radang kronik: (1) infiltrasi sel monokuler mencakup makrofag, limfosit dan sel-sel plasma, (2) dekstrusi jaringan, sebagian besar dicetuskan oleh sel-sel radang, dan (3) mulai adanya penyembuhan dengan adanya pergantian jaringan yang rusak di sertai proliferasi pembuluh darah (angiogenesis) dan fibrosis.

10. Matasis adalah peradangan payudara, yang dapat disertai atau tida disertai infeksi. Penyakit ini biasanya menyertai laktasi, sehingga disebut juga mastitis laktasional atau mastitis puerperalis. Mastitis infeksi dapat terjadi ketika bakteri memasuki payudara sementara menyusui. Puting susu dapat menjadi retak atau sakit akibat menyusui. Hal ini dapat terjadi bila posisi bayi pada saat menyusui tidak sesuai. Gesekan dengan mulut bayi yang terus menerus akan mampu membuat puting susu mengalami luka lecet, perasaan perih ini aan terus dirasakan ibu ketika menyusui bayi. Bakteri pada permukaan kulit dan mulut bayi memasuki saluran susu dan berkembang biak, sehingga menyebabkan rasa sakit dan pembengkakan payudara karena infeksi.
Mastitis dapat disebabkan karena keradangan biasa atau oleh agen infeksi seperti bakteri dan jamur. Bakteri yang dapat menimbulkan mastitis yaitu Staphylococcus aureus.
Dampak pada anak :
Meski terasa sakit pada saat terserang mastitis, gangguan ini tida akan membawa dampak negatif pada bayi. Kendatipun kuman - pada infektif mastitis - mungkin berasal dari mulut bayi. Infektif dan bayi menelan bakteri dalam susu, maka akan dibunuh oleh asam dalam perutnya. Akibatnya bayi tersebut tidak mendapat asupan gizi yang baik.
11. Anamnesis
” Keluhan utama: nyeri pada payudara kiri
” Keluhan tambahan: terasa keras dan tampak keluar cairan kental kekuningan dari permukaan kulit yang retak-retak.
” Riwayat penyakit sekarang
” Riwayat penyakit dahulu
” Riwayat penyakit keluarga
Pemeriksaan fisik
Status Generalis
” TNR
” Kepala
” Mata
” Thorak
” Cor
” Pulmo
” Abdomen
” Ekstremitas atas dan bawah
Status Lokalis
” Regio mammae sinistra:
o Inspeksi
o Palpasi
Penanganan
” Teruskan pemberian ASI meski payudara mengalami abses atau pembengkakan. Tahan sakit. Pemberian ASI mempercepat penyembuhan.
” Kompres payudara dengan air hangat atau kain dibasahi air hangat.
” Cukup istrirahat dan tidur agar tubuh aktif memproduksi sistem imun guna memerangi infeksi mastitis.
” Minum antibiotik sesuai resep dokter.
” Makan makanan yang bergizi tinggi.
” Minum banyak air putih juga akan membantu menurunkan demam.
12. Sistem Imun tubuh
Imunologi menurut pengertian saat ini adalah ilmu yang mempelajari tentang respons imun dalam arti luas dam mempelajari peristiwa seluler dan molekuler yang terjadi setelah tubuh terpapar mikroba atau makromolekul asing.
Lingkungan di sekitar manusia mengandung berbagai jenis patogen, misalnya bakteri, virus, fungus, protozoa dan parasit yang dapat menyebabakan infeksi pada manusia. Infeksi yang terjadi pada orang normal umumnya singkat dan jarang meninggalkan kerusakan permanen. Hal ini disebabkan tubuh manusia memilii suatu sistem yang disebut sistem imun yang memberikan respons dan melindungi tubuh terhadap unsur-unsur patogen tersebut. Respons imun sangat bergantung pada kemampuan sistem imun untuk mengenali molekul asing (antigen) yang terdapat pada patogen potensial dan kemudian membangkitkan reaksi yang tepat untuk menyingkirkan sumber antigen itu. Unsur utama sistem imin adalah limfosit. Limfosit pada seorang individu melakukan diversifikasi selama perkembangannya demikian rupa sehingga populasi limfosit secara keseluruhan mampu mengenal molekul asing dan membedakannya dari molekul jaringan atau sel tubuh sendiri. Kemampuan diversifikasi dimiliki oleh komponen-komponen sistem imun yang terdapat dalam jaringan limforetikuler yang letaknya tersebar diseluruh tubuh, misalnya dalam sumsum tulang, kelenjar limfe, limpa, thymus, sistem saluran nafas, saluran cerna dan organ-organ lain.
Rangsangan terhadap sel-sel tersebut terjadi apabila didalam tubuh masuk suatu zat yang oleh sel atau jaringan tadi dianggap asing. Sistem imun dapat membedakan zat asing (non self) dari zat yang berasal dari tubuh sendiri (self). Pada keadaan patologik, sistem imun tidak dapat membedakan self dan non-self sehingga sel-sel dalam sistem imun membentuk zat anti terhadap jaringan tubuhnya sendiri. Zat itu disebut antibodi.
13. Edukasi bagi ibu dan bayinya
Pengobatan radang payudara pada ibu menyusui bila sampai mengeluarkan nanah maka pemberian ASI dihentikan dulu, Pemberian terapi obat -obatan harus sesuai petunjuk tenaga kesehatan. Perbanyak minum air putih 2 liter setiap hari selama masa menyusui terutama bila terserang infeksi / radang payudara.
Catatan: pada hari ke tiga dan ke empat biasanya payudara ibu akan tampak bengkak dan nyeri, ini disebabkan produksi ASI meningkat dan bukan radang payudara. Juga beberapa kelenjar payudara akan tampak benjolan dan bengkak bahkan sampai di ketiak, selama produksi ASI lancar, bayi menghisap baik maka ibu tak perlu cemas.

14. Penatalaksanaan:
” Ibu perlu istirahat.
Istirahat akan menghilangkan stres dan meningkatkan kekebalan tubuh kembali.
” Ibu dianjurkan agar tetap menyusui. ASI tetap harus dikeluarkan dengan tangan atau pompa.
Jangan berhenti menyusui meskipun payudara meradang
Penghentian ini dapat menyebabkan terjadinya infeksi kuman penyakit pada payudara yang dapat berlanjut menjadi abses payudara (payudara bernanah). Susuilah bayi lebih sering di payudara yang meradang. Susuilah payudara yang meradang sampai kosong, karena apabila ada yang tersisa, maka payudara akan lebih mudah terinfeksi kembali. Sebaiknya langsung susui bayi (jangan mengambil susu dengan pompa), kecuali jika terpaksa karena bayi menolak menyusu.
” Minum antibiotika yang sesuai (berobat ke dokter).
” Untuk mengurangi rasa sakit boleh mengkompres dengan kompres hangat atau dingin dan minum obat pengurang rasa sakit.
Kompres payudara secara bergantian. Kompres dingin menghilangkan rasa nyeri, sedangkan kompres panas membantu memerangi peradangan.
” Pijat daerah yang sakit
Pemijatan akan meningkatkan sirkulasi, mengurangi penyumbatan payudara, serta membantu meningkatkan faktor imunitas di payudara. Pijatlah payudara Anda sambil mandi air hangat atau berendam air hangat.
” Mulailah menyusui dengan payudara yang sehat
Setelah itu baru ganti ke payudara yang sakit. Cara ini akan mengurangi nyeri saat menyusu. Bayi mungkin saja menolak untuk menyusu pada payudara yang meradang. Hal ini disebabkan karena peradangan pada kelenjar susu meningkatkan kadar sodium (garam) sehingga rasa ASI menjadi asin.
” Abses payudara

Bila sampai terjadi abses, penatalaksanaan seperti diatas. Selain itu nanah yang terbentuk perlu dikeluarkan dengan insisi. Selama luka bekas insisi belum sembuh bayi disusukan dari payudara yang sehat.

15. Prognosis
Untuk radang payudara, jika penanganan tepat prognosis nya adalah baik.


Kesimpulan:
Ibu 27 tahun mengalami Mastits puerperalis yakni radang payudara pada ibu menyusui akibat infeksi kuman pada jaringan payudara.

Sumber:
” Robbins and Cotrans. Pathologic Basic of Disease, 8th Edition. Kieman, Abbas, Fausto.
” Buku ” IMULOGI : Diangnosis dan Prosedur Laboratorium” FUKI
http://kesehatan.kompasiana.com/ibu-dan-anak/2010/06/04/perawatan-payudara-dan-solusi-permasalahan-ibu-menyusui/
http://kesehatan.kompasiana.com/ibu-dan-anak/2010/05/31/tips-penting-untuk-ibu-menyusui/
http://herrysetyayudha.wordpress.com/2011/11/06/kelainan-pada-payudara-breast-disease-disorder/
http://www.idai.or.id/asi/artikel.asp?q=2009416134551

*yang patomekanisme belum, nanti menyusul nehh:D*

upload upload
upload upload
with shasa, @rinaastri
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Next

Theme by: KAWAIISECRETS. Powered by: Tumblr.